Arogansi Alumni ITB
Tagged:

Alumni ITB memang terkenal jago-jago dan terpandang. Ada faktor sejarah, budaya di kampus, dan sistem pengajaran di ITB yang membentuknya. Selain prestasi dan pencapaian-pencapaian intelektualnya. Itu harus diakui.

Namun memang ada alumni ITB yang dengan pengetahuannya yang masih terbatas sudah mampu memandang rendah rakyat kebanyakan. Akses yang lebih baik ke sumber daya informasi, kesempatan yang lebih baik dibandingkan rakyat kebanyakan, rupanya membuatnya silau.

Dikit-dikit bawa nama rakyat, padahal cuma modal nonton TV atau baca koran. Lalu bisa kasih judgement: rakyat itu bodoh, rakyat itu tidak logis, rakyat itu pikun.

Kalau para alumni ITB cuma berpegang dengan apa yang mereka baca dan liat di media nasional yang notabene cuma memegang sekitar 10 persen informasi, ya kasian amat kawan ini. Sekitar 90 persen informasi left unsaid. Tapi dikit-dikit bawa rakyat. Apa ngga diketawain orang?

Hiihihi..

Btw, sudah sering kita lihat anak ITB underestimate pada rakyat. Rakyat itu ngga logislah, cupu lah, ngga punya sikap lah, dan sebagainya. Berlagak lebih pandai dari rakyat. Itu omong kosong, dan salah besar!

Dia yang merasa lebih superior dari rakyat kebanyakan itu sebenarnya ngga mengerti pikiran dan logika rakyat. Dan superioritas itu hanya untuk menutupi ketidakberdayaannya menghadapi rakyat, menghadapi realitas yang dialami rakyat.

Ia hanya bisa bersembunyi di balik kemegahan peradaban barat untuk menghadapi kemiskinan. Ia hanya bisa berlindung di balik emansipasi ala barat untuk menghadapi penindasan gender. Ia hanya mampu mengulang atau menjadi pembeo dari buku-buku sosialisme dan kapitalisme. Ia hanya mampu menjadi pengutip ayat-ayat suci.

Tapi percayalah, itu besar lagaknya aja. Buktinya, untuk menghadapi rakyatnya sendiri harus pakai teori-teori dan pemikiran dari barat. Ya begitulah, tidak mampu make a deal dengan rakyat, kemudian lari ke perpustakaan atau ke kamarnya, ke buku-buku sosialisme, kapitalisme, yang sudah ditinggalkan oleh bangsa barat sendiri. Kemudian dengan pengetahuan itu, merasa lebih unggul dari rakyat. Padahal dalam ekosistem kapitalisme kita, nasibnya bahkan masa depannya tidak lebih baik dari tukang sapu di terminal Kampung Rambutan.

Bahwa rakyat harus dididik, semua orang di Indonesia ini harus dididik supaya berpikiran sehat sebagaimana manusia sewajarnya. Baik rakyat maupun pejabatnya, supaya tidak menjadi serigala jadi-jadian.

Dikutip dari:
http://www.ebonk.org/blog/archives/2007/08/15/arogansi-alumni-itb/